PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL BERBASIS KESADARAN PENUH DAN KAITANNYA DENGAN MERDEKA BELAJAR
Pembelajaran sosial emosional dapat
dijadikan sebagai awal dan dasar penanaman pendidikan karakter kepada anak. Peran orang tua dan
guru disekolah dalam mengembangkan prilaku sosial dan emosional anak adalah
ditempuh dengan menanamkan sejak dini pentingnya pembudayaan prilaku dan sikap
dan dapat dilakukan melalui pembiasaan yang baik. Kompetensi
sosial dan emosional adalah kemampuan untuk memahami, mengelola, dan
mengekspresikan aspek-aspek sosial dan emosional kehidupan seseorang, dengan
demikian seorang anak mampu meraih keberhasilan, melaksanakan tugas sehari-hari
seperti belajar, membentuk hubungan/ berinterkasi, memecahkan masalah kehidupan
sehari-hari, dan beradaptasi dengan tuntutan pertumbuhan dan perkembangan yang
kompleks. Ini mencakup kesadaran diri, kontrol impulsif, bekerja kooperatif,
dan peduli tentang diri sendiri dan orang lain.
Kecerdasan sosial-emosional
pada anak tidak dimiliki secara alami tetapi harus ditumbuhkan dan dikembangkan
oleh orangtua maupun oleh pendidik. Aspek emosi dan sosial ini sangat berpengaruh terhadap prilaku anak
kepada dirinya, orang lain dan lingkungannya. Pada diri seorang anak aspek
sosial emosi ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial emosional.
Dimana pembelajaran sosial emosional adalah proses mengembangkan keterampilan,
sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan
emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya, orang lain dan
lingkungan sekitar.
Dalam mengembangankan sosial-emosional anak
diperlukan metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan aspek tersebut. Metode
yang dapat digunakan yaitu metode keteladanan,
mendongeng
atau bercerita, bermain
kooperatif, bermain peran, outbond.
Pembelajaran
sosial dan emosional ini diawali dengan kesadaran penuh ( mindfulness )
karena selain mengembangkan kemampuan akademiknya murid
juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya. Berbagai hasil
penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional berperan penting dalam
keberhasilan akademik maupun kehidupan seseorang. Mindfulness
melibatkan individu untuk „mengingat‟, namun tidak berkutat pada ingatan,
melainkan untuk mengarahkan kembali perhatian dan kesadaran kita kepada
pengalaman saat ini dengan cara yang tulus dan penuh penerimaan, serta
membutuhkan niat untuk memisahkan lamunan individu dan berusaha merasakan momen
itu sepenuhnya
.
Kesadaran penuh ( mindfulness ) adalah keadaan pikiran yang berfokus pada pengenalan
tentang apa yang dirasakan pada saat ini, tanpa melalui penilaian. Dengan kata
lain mindfulness berarti cara
untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang terjadi dengan sadar tanpa adanya
penilaian, sehingga mindfulness merupakan
praktik yang membuat orang lebih fokus terhadap situasi saat ini dan
menerimanya tanpa menghakimi, keadaan ini yang membantu menerima dan mengatasi
pikiran, perasaan, atau sensasi yang menyakitkan atau mengganggu. Mindfulness sejatinya sesederhana
menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
Contoh
dari mindfulness adalah dengan tidak menghakimi mengamati apa emosi yang ada
dan bagaimana rasanya secara fisik di dalam tubuh. Proses ini dapat melatih
pikiran untuk menjadi lebih baik dalam mengenali perasaan dan pola pikir yang
mungkin terabaikan, sehingga kita bisa lebih memahami diri sendiri.
Mindfulness merupakan
tekhnik yng dapat membantu mengelola peroses pengendalian emosi dengan lebih efektif.
Emosi
sangat erat kaitannya dengan kapasitas penyesuaian diri individu yang
menjembatani perilaku dan relasi sosial individu. Kecerdasan emosi meliputi
kesadaran diri emosional, mengelola emosi, memanfaatkan emosi secara produktif,
empati dan membina hubungan. Salah satu bagian dari kecerdasan emosi yang dapat
dilatih adalah keterampilan mengelola emosi atau regulasi emosi. Kemampuan
regulasi emosi membuat orang mampu menerima dan menghargai diri sendiri. Ketika
regulasi emosi seseorang sudah baik, maka ia mampu bertahan dalam situasi dan
kondisi bagaimanapun. Ia akan tetap memiliki daya kontrol yang baik sehingga
dapat mengaktualisasikan diri dengan semaksimal mungkin. Mindfulness sebagai
sebuah kesadaran, diperkuat dengan memperhatikan secara berkelanjutan dan
khusus yang disengaja, pada saat sekarang dan dengan tanpa menghakimi.
Mindfulness juga akan melibatkan bagaimana seseorang melihat, merasakan,
mengetahui dan mencintai terhadap yang difokuskan pada saat ini dan
memfasilitasi keterpusatan fokus dan kesadaran yang lebih besar. Pendekatan ini
melibatkan perhatian yang difokuskan disini dan sekarang serta dengan sikap
tidak menghakimi yang menggunakan unit-unit dasar intensi (niat), atensi
(perhatian), dan sikap.
Manfaat memperaktikkan mindfulness
yaitu:
- Merasa lebih terhubung dengan diri
sendiri, baik secara fisik maupun emosional
- Kesadaran emosional yang lebih besar
tentang diri sendiri dan individu di sekitarnya
- Pemahaman yang lebih baik tentang
emosi diri dan penyebabnya pengurangan stress
Faktor Penghambat Mindfulness
1. Rumination atau ruminasi : cara spesifik untuk menanggapi suasana
hati yang buruk di mana seseorang merenungkan kemungkinan penyebab dan
implikasi dari perasaan sedih Ruminasi bertolak belakang dengan mindfulness
karena ruminasi membuat individu secara pasif terfokus pada emosi negatif,
sedangkan mindfulness membuat individu bersikap tidak bereaksi, menilai maupun
mengkritik.
2. Mindlessness adalah sikap individu di mana seseorang
terperangkap dalam pikiran yang mengganggu atau dalam opini tentang apa yang
terjadi pada saat itu. Mindlessness terjadi ketika atensi mengembara tanpa arah
dan membawa individu larut dalam lamunan. Mindlessness berupa perilaku mekanis
yang dilakukan individu ketika individu tersebut sudah terlampau sering
melakukan aktivitas tersebut. Fenomena ini berkaitan dengan autopilot yaitu
ketika individu merespons secara otomatis terhadap berbagai kehidupan tanpa
menyadari ataupun menghayati.

Sosial Emosional Learning ( SEL )
Sosial Emosional Learning atau SEL adalah proses pembentukan diri
yang berkaitan dengan kesadaran diri, kontrol diri dan kemampuan relasi. Kenapa
SEL sangat penting? Karena proses ini akan membantu kehidupannya baik di
sekolah, lingkungan kerja atau bermasyarakat.
Orang yang punya sosial
emosional yang baik jauh lebih bisa:
-
Menerima dan melakukan tantangan, misalnya dalam bekerja.
-
Lebih mudah untuk belajar.
-
Bersikap professional.
-
Bersosialisasi
Ada Lima Kompetensi Kunci Pengembangan
Dalam Aspek Sosial Emosional Anak Yaitu:
1.
Kesadaran diri – Pengenalan emosi ( Self-Awareness )
Kesadaran diri,
manajemen diri dan 232 Jurnal Teknodik Vol. XV, Nomor 2, Desember ekspresi
emosional, terutama pengakuan dan penyampaian pesan dengan positif, adalah
pusat untuk pembelajaran sosial emosional. Emosi harus dinyatakan sesuai dengan
tujuan seseorang, sesuai dengan konteks sosial, tujuan diri dan orang lain
harus dikoordinasikan. Artinya, kesadaran diri meliputi komponen pembelajaran
sosial dan emosional termasuk mengalami dan mengekspresikan emosi yang mana
bermanfaat untuk interaksi setiap saat dan hubungan sosial dari waktu ke waktu.
Untuk
mencapai pemahaman kesadaran diri dan mampu mengenali emosi Teknik STOP berikut
ini dapat digunakan untuk mengembalikan pada kondisi saat ini dengan kesadaran
penuh. STOP merupakan akronim dari:
Stop/
Berhenti . Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan.
Take
a deep Breath/ Tarik nafas dalam . Sadari napas masuk,
sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan
udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas
keluar.
Observe/
Amati . Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati perut
yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati
pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan.
Proceed/
Lanjutkan . Latihan selesai. Silahkan lanjutkan kembali
aktivitas Anda
Dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran
yang lebih jernih, dan sikap.
2.
Pengelolaan diri ( Self-Management )
Emosi negatif atau positif membutuhkan
regulasi, ketika emosi mengancam untuk mengalahkan atau perlu diperkuat.
Menurut Lewis dkk dalam CASEL, pada masa prasekolah, kemampuan kognitif dan
pengontrolan perhatian dan emosional mereka mulai meningkat. Anak-anak menjadi
lebih mandiri dalam regulasi emosi selama masa prasekolah. Dalam konteks ini,
Perhatian anak prasekolah adalah terpaku pada keberhasilan dengan teman-teman
mereka. Tidak seperti orang dewasa, bagaimanapun, interaksi dengan anak-anak
lain penting sekalipun tidak terampil bernegosiasi, atau tidak mampu menawarkan
aktivitas dalam regulasi emosi. Pada saat yang sama, biaya sosial disregulasi
emosional tinggi dengan pendidik, teman sebaya atau teman main lainnya. Karena
bermain dengan teman sebaya penuh dengan konflik, ini fokus perkembangan dalam
tuntutan regulasi emosi, memulai, memelihara, negosiasi dan interaksi dalam
dunia bermain, dan mendapatkan penerimaan. Orang tua dan pendidik harus
memiliki ketekunan dan kesabaran dalam membimbing anak untuk bisa mengatur diri
supaya bisa diterima dan disukai oleh teman lainnya. Terdapat enam emosi dasar
pada kita manusia. Enam emosi tersebut yaitu takut, jijik, marah, kaget,
bahagia, dan sedih. Emosi-emosi ini muncul akibat reaksi fisik, aktivitas
pikiran dan pengaruh budaya.
3.
Kesadaran social ( Social Awareness )Kesadaran
sosial akan menjadikan anak mampu memiliki empati terhadap orang lain, dan
tekun dalam mengatasi berbagai cobaan dalam kehidupan sehari-hari, mengenal dan
menghargai perbedaan dan persamaan individu dan orang banyak, dan mengenal
bahwa keluarga, sekolah dan masyarakat adalah sumber segalanya.
4.
Keterampilan berhubungan social- Resiliensi ( Relationship Management )
Keterampilan
mengatur hubungan merupakan komponen penting juga dalam pengembangan sosial
emosional anak. Ini termasuk, misalnya, membuat tawaran positif pada diri
sendiri untuk bermain dengan orang lain, memulai dan mempertahankan percakapan
selama bermain bersama, mendengarkan aktif, bekerja sama, berbagi, bergiliran,
negosiasi, dan berkata “tidak” atau mencari bantuan bila diperlukan. Anak dapat
menggunakan banyak keterampilan tertentu seperti dalam pelayanan bergaul dengan
teman-teman sepermainannya. Variasi dalam aspek-aspek keterampilan sosial anak
diperoleh anak-anak dari pengalaman individu dalam keluarga dan kelas
prasekolah. Oleh sebab itu orang dewasa memiliki peran penting dalam kehidupan
setiap anak untuk mengembangkan kemampuan mengatur diri
5.
Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang berbasis
kesadaran penuh ( Responsible
Decision Making )
Karena pemikiran dan emosi bekerja sama
dalam hidup, adalah penting untuk mengembangkan keterampilan setiap anak dalam
berpikir tentang interaksi antarpribadi, melampaui pengalaman emosional,
pengetahuan, regulasi, dan ekspresi. Anakanak harus belajar untuk menganalisis
situasi sosial, menetapkan tujuan sosial, dan menentukan cara yang efektif untuk
menyelesaikan perbedaan yang muncul antara mereka dan teman-teman mereka.
Ketika ada perbedaan pendapat atau masalah, apa yang dapat dilakukan
(generation of alternative solutions)? Apa solusi efektif yang dapat mengurai
masalah (consequential thinking)? Anak-anak prasekolah sudah mulai belajar keterampilan
berpikir, yang mendukung interaksi sosial mereka yang semakin kompleks. Setiap
orang yang terlibat dalam interaksi yang bagaimanapun juga dan siapapun, perlu
memahami bagaimana mengembangkan kemampuan anak membuat keputusan yang bisa
dipertanggung jawabkan dan membuat interaksi terjalin bagi semua anak
disekitarnya. Anak-anak selalu berusaha untuk memahami diri mereka sendiri dan
perilaku orang lain. Dalam hal ini, emosi berperan besar menyampaikan informasi
antarpribadi yang dapat menuntun interaksi sehingga mencapai pemahaman diri dan
orang lain.
Kelima kompetensi ini penting dikembangkan sejak usia dini untuk
membangun dan menanamkan keterampilan sosial anak. Karena dengan mengembangkan
kelima aspek sosial emosional anak tersebut akan berimplikasi pada tertanamnya
sifat-sifat baik/ karakter-karakter unggul pada diri anak dalam dunia sosial.

Ruang Lingkup implementasi
pembelajaran social dan Emosional
1. Kegiatan
rutin: kegiatan yang dilakukan diluar waktu belajar akademik
sesuai dengan kondisi sekolah masing – masing,
misalnya ekskul, perayaan hari besar, kegiatan sekolah, apel pagi, kerja bakti,
senam bersama, kunjungan perpustakaan, membaca bersama, seminar / pelatihan.
2. Terintegrasi dalam pembelajaran:
sebagai strategi pembelajaran atau diintegrasikan dalam kurikulum: melibatkan
murid dalam membuat aturan agar kelas aman dan nyaman, memberikan kesempatan pada
murid untuk merefleksi proses pembelajaran yang sudah diikuti ( apa yang
disukai / mudah / menantang / ingin dipelajari lebih lanjut sebelum melanjutkan
pembelajaran berikutnya, memberikan fleksibilitas pada murid untuk mengerjakan tugas yang disukainya terlebih dahulu, mengajak murid menonton film
dan membedah perasaan dan motivasi tokoh dalam film tersebut, mengajak murid berdiskusi dan beropini tentang masalah
yang terja di dalam masyarakat / sekolah
3. Protokol: budaya atau aturan sekolah
yang sudah menjadi kesepakatan Bersama dan diterapkan secara mandiri: memberikan
kesempatan pada murid untuk menikmati
buku pilihannya dalam suasana yang kondusif, mendengarkan
penjelasan murid yang dilaporkan terlibat
dalam perilaku indisipliner dengan sikap empatik dan hormat, mengungkapkan
sikap tidak setuju pada rekan guru lain dengan sikap hormat dan empati, memfasilitasi murid untuk duduk
berdialog dalam menyelesaikan konflik
-
Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat
penting. Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak
untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya,
juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik.
-
Hakikat PSE untuk memberikan keseimbangan pada individu dan
mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses.
Bagaimana kita sebagai pendidik dapat menggabungkan itu semua dalam
pembelajaran sehingga anak-anak dapat belajar menempatkan diri secara efektif
dalam konteks lingkungan dan dunia.

Komentar
Posting Komentar