PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL BERBASIS KESADARAN PENUH DAN KAITANNYA DENGAN MERDEKA BELAJAR

 

PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL BERBASIS KESADARAN PENUH DAN KAITANNYA DENGAN MERDEKA BELAJAR

    Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai pendorong bagi perkembangan siswa yaitu pendidikan mengajarkan untuk mencapai perubahan dan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. Merdeka belajar merupakan salah satu bentuk implementasi nilai-nilai pembentuk karakter bangsa dimulai yang dari pembenahan sistem pendidikan dan metode belajar. Diharapkan merdeka belajar dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik serta memberikan manfaat pada lingkungan.  

Pembelajaran  sosial emosional dapat dijadikan sebagai awal dan dasar penanaman pendidikan karakter kepada anak. Peran orang tua dan guru disekolah dalam mengembangkan prilaku sosial dan emosional anak adalah ditempuh dengan menanamkan sejak dini pentingnya pembudayaan prilaku dan sikap dan dapat dilakukan melalui pembiasaan yang baik. Kompetensi sosial dan emosional adalah kemampuan untuk memahami, mengelola, dan mengekspresikan aspek-aspek sosial dan emosional kehidupan seseorang, dengan demikian seorang anak mampu meraih keberhasilan, melaksanakan tugas sehari-hari seperti belajar, membentuk hubungan/ berinterkasi, memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, dan beradaptasi dengan tuntutan pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks. Ini mencakup kesadaran diri, kontrol impulsif, bekerja kooperatif, dan peduli tentang diri sendiri dan orang lain.

Kecerdasan sosial-emosional pada anak tidak dimiliki secara alami tetapi harus ditumbuhkan dan dikembangkan oleh orangtua maupun oleh pendidik. Aspek emosi dan sosial ini sangat berpengaruh terhadap prilaku anak kepada dirinya, orang lain dan lingkungannya. Pada diri seorang anak aspek sosial emosi ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran sosial emosional. Dimana pembelajaran sosial emosional adalah proses mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalam berinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar.

Dalam mengembangankan sosial-emosional anak diperlukan metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan aspek tersebut. Metode yang dapat digunakan yaitu metode  keteladanan, mendongeng atau bercerita, bermain kooperatif, bermain peran, outbond.

 

Pembelajaran sosial dan emosional  ini diawali dengan kesadaran penuh ( mindfulness ) karena selain mengembangkan kemampuan akademiknya murid juga perlu mengembangkan aspek sosial dan emosionalnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional berperan penting dalam keberhasilan akademik maupun kehidupan  seseorang. Mindfulness melibatkan individu untuk „mengingat‟, namun tidak berkutat pada ingatan, melainkan untuk mengarahkan kembali perhatian dan kesadaran kita kepada pengalaman saat ini dengan cara yang tulus dan penuh penerimaan, serta membutuhkan niat untuk memisahkan lamunan individu dan berusaha merasakan momen itu sepenuhnyaLima Manfaat Perhatian (Sati) dalam Meditasi | Bhikkhu Santacitto |  Dhammadesana Minggu #meditasi - YouTube.

Kesadaran penuh ( mindfulness ) adalah keadaan pikiran yang berfokus pada pengenalan tentang apa yang dirasakan pada saat ini, tanpa melalui penilaian. Dengan kata lain mindfulness berarti cara untuk memusatkan perhatian terhadap apa yang terjadi dengan sadar tanpa adanya penilaian, sehingga mindfulness merupakan praktik yang membuat orang lebih fokus terhadap situasi saat ini dan menerimanya tanpa menghakimi, keadaan ini yang membantu menerima dan mengatasi pikiran, perasaan, atau sensasi yang menyakitkan atau mengganggu. Mindfulness sejatinya sesederhana menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.

Contoh dari mindfulness adalah dengan tidak menghakimi mengamati apa emosi yang ada dan bagaimana rasanya secara fisik di dalam tubuh. Proses ini dapat melatih pikiran untuk menjadi lebih baik dalam mengenali perasaan dan pola pikir yang mungkin terabaikan, sehingga kita bisa lebih memahami diri sendiri. 

Mindfulness merupakan tekhnik yng dapat membantu mengelola peroses pengendalian emosi dengan lebih efektif. Emosi sangat erat kaitannya dengan kapasitas penyesuaian diri individu yang menjembatani perilaku dan relasi sosial individu. Kecerdasan emosi meliputi kesadaran diri emosional, mengelola emosi, memanfaatkan emosi secara produktif, empati dan membina hubungan. Salah satu bagian dari kecerdasan emosi yang dapat dilatih adalah keterampilan mengelola emosi atau regulasi emosi. Kemampuan regulasi emosi membuat orang mampu menerima dan menghargai diri sendiri. Ketika regulasi emosi seseorang sudah baik, maka ia mampu bertahan dalam situasi dan kondisi bagaimanapun. Ia akan tetap memiliki daya kontrol yang baik sehingga dapat mengaktualisasikan diri dengan semaksimal mungkin. Mindfulness sebagai sebuah kesadaran, diperkuat dengan memperhatikan secara berkelanjutan dan khusus yang disengaja, pada saat sekarang dan dengan tanpa menghakimi. Mindfulness juga akan melibatkan bagaimana seseorang melihat, merasakan, mengetahui dan mencintai terhadap yang difokuskan pada saat ini dan memfasilitasi keterpusatan fokus dan kesadaran yang lebih besar. Pendekatan ini melibatkan perhatian yang difokuskan disini dan sekarang serta dengan sikap tidak menghakimi yang menggunakan unit-unit dasar intensi (niat), atensi (perhatian), dan sikap.

Manfaat memperaktikkan mindfulness yaitu:

  • Merasa lebih terhubung dengan diri sendiri, baik secara fisik maupun emosional
  • Kesadaran emosional yang lebih besar tentang diri sendiri dan individu di sekitarnya
  • Pemahaman yang lebih baik tentang emosi diri dan penyebabnya pengurangan stress

Faktor Penghambat Mindfulness

1.     Rumination atau ruminasi : cara spesifik untuk menanggapi suasana hati yang buruk di mana seseorang merenungkan kemungkinan penyebab dan implikasi dari perasaan sedih Ruminasi bertolak belakang dengan mindfulness karena ruminasi membuat individu secara pasif terfokus pada emosi negatif, sedangkan mindfulness membuat individu bersikap tidak bereaksi, menilai maupun mengkritik.

2.     Mindlessness adalah sikap individu di mana seseorang terperangkap dalam pikiran yang mengganggu atau dalam opini tentang apa yang terjadi pada saat itu. Mindlessness terjadi ketika atensi mengembara tanpa arah dan membawa individu larut dalam lamunan. Mindlessness berupa perilaku mekanis yang dilakukan individu ketika individu tersebut sudah terlampau sering melakukan aktivitas tersebut. Fenomena ini berkaitan dengan autopilot yaitu ketika individu merespons secara otomatis terhadap berbagai kehidupan tanpa menyadari ataupun menghayati.

Sosial Emosional Learning ( SEL )

Sosial Emosional Learning atau SEL adalah proses pembentukan diri yang berkaitan dengan kesadaran diri, kontrol diri dan kemampuan relasi. Kenapa SEL sangat penting? Karena proses ini akan membantu kehidupannya baik di sekolah, lingkungan kerja atau bermasyarakat.
Orang yang punya sosial emosional yang baik jauh lebih bisa:

-      Menerima dan melakukan tantangan, misalnya dalam bekerja.

-      Lebih mudah untuk belajar.

-      Bersikap professional.

-      Bersosialisasi

Ada Lima Kompetensi Kunci Pengembangan Dalam Aspek Sosial Emosional Anak Yaitu:

1.     Kesadaran diri – Pengenalan emosi ( Self-Awareness )

Kesadaran diri, manajemen diri dan 232 Jurnal Teknodik Vol. XV, Nomor 2, Desember ekspresi emosional, terutama pengakuan dan penyampaian pesan dengan positif, adalah pusat untuk pembelajaran sosial emosional. Emosi harus dinyatakan sesuai dengan tujuan seseorang, sesuai dengan konteks sosial, tujuan diri dan orang lain harus dikoordinasikan. Artinya, kesadaran diri meliputi komponen pembelajaran sosial dan emosional termasuk mengalami dan mengekspresikan emosi yang mana bermanfaat untuk interaksi setiap saat dan hubungan sosial dari waktu ke waktu.

Mindfulness : Bagaimana Bernapas Bisa Membuat Kita Lebih Bahagia? -  Kompasiana.comUntuk mencapai pemahaman kesadaran diri dan mampu mengenali emosi Teknik STOP berikut ini dapat digunakan untuk mengembalikan pada kondisi saat ini dengan kesadaran penuh. STOP merupakan akronim dari:

Stop/ Berhenti . Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan.

Take a deep Breath/ Tarik nafas dalam . Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar.

Observe/ Amati . Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang  mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan.

Proceed/ Lanjutkan . Latihan selesai. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda

Dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap.

 

2.     Pengelolaan diri ( Self-Management )

Emosi negatif atau positif membutuhkan regulasi, ketika emosi mengancam untuk mengalahkan atau perlu diperkuat. Menurut Lewis dkk dalam CASEL, pada masa prasekolah, kemampuan kognitif dan pengontrolan perhatian dan emosional mereka mulai meningkat. Anak-anak menjadi lebih mandiri dalam regulasi emosi selama masa prasekolah. Dalam konteks ini, Perhatian anak prasekolah adalah terpaku pada keberhasilan dengan teman-teman mereka. Tidak seperti orang dewasa, bagaimanapun, interaksi dengan anak-anak lain penting sekalipun tidak terampil bernegosiasi, atau tidak mampu menawarkan aktivitas dalam regulasi emosi. Pada saat yang sama, biaya sosial disregulasi emosional tinggi dengan pendidik, teman sebaya atau teman main lainnya. Karena bermain dengan teman sebaya penuh dengan konflik, ini fokus perkembangan dalam tuntutan regulasi emosi, memulai, memelihara, negosiasi dan interaksi dalam dunia bermain, dan mendapatkan penerimaan. Orang tua dan pendidik harus memiliki ketekunan dan kesabaran dalam membimbing anak untuk bisa mengatur diri supaya bisa diterima dan disukai oleh teman lainnya. Terdapat enam emosi dasar pada kita manusia. Enam emosi tersebut yaitu takut, jijik, marah, kaget, bahagia, dan sedih. Emosi-emosi ini muncul akibat reaksi fisik, aktivitas pikiran dan pengaruh budaya.

 

3.     Kesadaran social ( Social Awareness )Kesadaran sosial akan menjadikan anak mampu memiliki empati terhadap orang lain, dan tekun dalam mengatasi berbagai cobaan dalam kehidupan sehari-hari, mengenal dan menghargai perbedaan dan persamaan individu dan orang banyak, dan mengenal bahwa keluarga, sekolah dan masyarakat adalah sumber segalanya.

 

4.     Keterampilan berhubungan social- Resiliensi ( Relationship Management )

Keterampilan mengatur hubungan merupakan komponen penting juga dalam pengembangan sosial emosional anak. Ini termasuk, misalnya, membuat tawaran positif pada diri sendiri untuk bermain dengan orang lain, memulai dan mempertahankan percakapan selama bermain bersama, mendengarkan aktif, bekerja sama, berbagi, bergiliran, negosiasi, dan berkata “tidak” atau mencari bantuan bila diperlukan. Anak dapat menggunakan banyak keterampilan tertentu seperti dalam pelayanan bergaul dengan teman-teman sepermainannya. Variasi dalam aspek-aspek keterampilan sosial anak diperoleh anak-anak dari pengalaman individu dalam keluarga dan kelas prasekolah. Oleh sebab itu orang dewasa memiliki peran penting dalam kehidupan setiap anak untuk mengembangkan kemampuan mengatur diri

 

5.     Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang berbasis kesadaran penuh ( Responsible Decision Making )

Karena pemikiran dan emosi bekerja sama dalam hidup, adalah penting untuk mengembangkan keterampilan setiap anak dalam berpikir tentang interaksi antarpribadi, melampaui pengalaman emosional, pengetahuan, regulasi, dan ekspresi. Anakanak harus belajar untuk menganalisis situasi sosial, menetapkan tujuan sosial, dan menentukan cara yang efektif untuk menyelesaikan perbedaan yang muncul antara mereka dan teman-teman mereka. Ketika ada perbedaan pendapat atau masalah, apa yang dapat dilakukan (generation of alternative solutions)? Apa solusi efektif yang dapat mengurai masalah (consequential thinking)? Anak-anak prasekolah sudah mulai belajar keterampilan berpikir, yang mendukung interaksi sosial mereka yang semakin kompleks. Setiap orang yang terlibat dalam interaksi yang bagaimanapun juga dan siapapun, perlu memahami bagaimana mengembangkan kemampuan anak membuat keputusan yang bisa dipertanggung jawabkan dan membuat interaksi terjalin bagi semua anak disekitarnya. Anak-anak selalu berusaha untuk memahami diri mereka sendiri dan perilaku orang lain. Dalam hal ini, emosi berperan besar menyampaikan informasi antarpribadi yang dapat menuntun interaksi sehingga mencapai pemahaman diri dan orang lain.

Kelima kompetensi ini penting dikembangkan sejak usia dini untuk membangun dan menanamkan keterampilan sosial anak. Karena dengan mengembangkan kelima aspek sosial emosional anak tersebut akan berimplikasi pada tertanamnya sifat-sifat baik/ karakter-karakter unggul pada diri anak dalam dunia sosial.

 

 

 

 

 

Ruang Lingkup implementasi pembelajaran social dan Emosional

1.     Kegiatan rutin: kegiatan yang dilakukan diluar waktu belajar akademik sesuai dengan kondisi sekolah masing – masing, misalnya ekskul, perayaan hari besar, kegiatan sekolah, apel pagi, kerja bakti, senam bersama, kunjungan perpustakaan, membaca bersama, seminar / pelatihan.

2.     Terintegrasi dalam pembelajaran: sebagai strategi pembelajaran atau diintegrasikan dalam kurikulum: melibatkan murid dalam membuat aturan agar kelas aman dan nyaman, memberikan kesempatan pada murid untuk merefleksi proses pembelajaran yang sudah diikuti ( apa yang disukai / mudah / menantang / ingin dipelajari lebih lanjut sebelum melanjutkan pembelajaran berikutnya, memberikan fleksibilitas pada murid untuk  mengerjakan tugas yang disukainya  terlebih dahulu, mengajak murid menonton film dan membedah perasaan dan motivasi tokoh dalam film tersebut, mengajak  murid berdiskusi dan beropini tentang masalah yang terja di dalam masyarakat / sekolah

3.     Protokol: budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan Bersama dan diterapkan secara mandiri: memberikan kesempatan pada murid untuk  menikmati buku  pilihannya dalam suasana yang  kondusif, mendengarkan penjelasan murid  yang dilaporkan terlibat dalam perilaku indisipliner dengan sikap empatik dan hormat, mengungkapkan sikap tidak setuju pada rekan guru lain dengan sikap hormat  dan empati, memfasilitasi murid untuk duduk berdialog dalam menyelesaikan  konflik

 Hakikat Pembelajaran Sosial dan Emosional 

-      Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting. Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik.

-      Hakikat PSE untuk memberikan keseimbangan pada individu dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses. Bagaimana kita sebagai pendidik dapat menggabungkan itu semua dalam pembelajaran sehingga anak-anak dapat belajar menempatkan diri secara efektif dalam konteks lingkungan dan dunia. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini